Friday, November 06, 2015

New Year 2015 Trip Part 3: The first snow and the journey began...!

Saya sudah membeli tiket minipas euroline ketika memperoleh kabar bahwa visa my significant one sudah keluar. Saya membeli untuk perjalanan Amsterdam - Brussel - Paris - Amsterdam. Kota yang "cukup dekat" untuk ditempuh dengan bus. Walaupun banyak opini bahwa perjalanan dengan kereta jauh lebih nyaman, tapi harga tiketnya mahal jika waktunya telah cukup dekat. Untuk dapat memperoleh harga tiket kereta yang murah harus mulai rajin mencari dan memesan dari 3 bulan sebelum keberangkatan. Keterangan dan ketentuan tentang euroline minipas bisa dibaca di website mereka.

Sepulangnya kami dari menonton di malam sebelumnya, my not yet husband sempat bertanya soal salju. Karena tahun sebelumnya salju juga tak banyak turun di Belanda (at least di bagian Wageningen) saya pun dengan santai nya bilang mungkin tidak akan ada salju sampai awal tahun. Tapi ternyata keesokan paginya salju telah menutupi permukaan tanah walaupun tak terlalu tebal.

Saya lupa nama stasiun tempat keberangkatan Bus euroline (Duivendrecht stasiun namanya), tak begitu jauh dari Amsterdam central, hanya perlu naik Metro. Karena jam keberangkatannya siang, dan tak mau merugi dengan membeli tiket kereta ke Amsterdam, akhirnya kami berangkat pagi untuk dapat berjalan diseputar centrum nya Amsterdam.
di Dam Square, tanpa jejak salju
 masih belajar menggunakan tongsis :D

Karena hanya memiliki waktu terbatas di Amsterdam, kami hanya berjalan ke Dam Square dan membeli beberapa perlengkapan anti dingin yang kebetulan sedang banyak di diskon di pertokoan sepanjang centrum. Walaupun salju turun di pagi harinya, siang hari sama sekali tak ada terlihat serpihan putih, sudah hilang tergantikan genangan coklat kotor dibeberapa tempat.

Di stasiun keberangkatan bus euroline Duivendrecht, tiket minipass nya di tukarkan di counter, kami diberikan bag tag untuk menandai barang yang dibawa dan nomer bus/ tiket (kalau tidak salah :D) tidak ada nomer kursi . Karena saya sempat mengantri lama di toiletnya, akhirnya kami naik bus belakangan dan "terpaksa" duduk paling depan. Jadi satu row paling depan itu diberi pembatas awalnya sehingga tidak ada yang dapat menempati. Sepertinya sengaja disediakan untuk para penumpang yang muncul di last minute. Dan dimulailah perjalanan kurang lebih 3 jam ke Brussel.
Karena musim dingin yang mataharinya cepat menghilang, sesampai di Brussel sudah gelap dan gerimis. Untungnya saya sudah browsing sebelumnya lokasi penginapan tempat kita bermalam dan sudah mendownload google map. Berbekal google map offline itulah kita akhirnya berjalan dan sukses menemukan penginapan.

Ada kemacetan juga lho... dan salju masih terlihat di sisi jalan yang tak terusik
Saya tak tahu itu patung merah maksudnya apa

Oya, karena sistem minipas yang open (dan murah), kita harus booking perjalanan di lokasi keberangkatan dan subject to availability. Jadi untuk menetapkan tanggal berapa berangkat dari belanda ke brussel, harus ke loket euroline di Belanda. Nah untuk menetapkan tanggal berapa dari brussel ke Paris, harus di loket brussel, dan tak bisa online. Makanya begitu sampai di stasiun brussel kami langsung ke loket euroline (pembelian) untuk booking keberangkatan ke Paris. Sempat tersasar ke loket keberangkatan euroline bagi yang sudah memiliki tiket sebelum diarahkan ke tiket pembelian mereka. Padahal sudah sempat antri lumayan juga :D

Karena sudah gelap (walaupun belum malam) dan bukan penikmat kehidupan malam (seperti teman2 di perjalanan sebelumnya) akhirnya malam itu kami hanya mencari makan malam (berakhir di kebab karna ada label halal nya) dan beristirahat. Besok nya kami tak berniat menjelajahi Brussel, kenapa? Karna besok adalah hari minggu dan tiket keluar kota discount 50%, jadi kami berniat mengunjungi kota cantik Genth terlebih dahulu dan baru mengexplore Brussel setelahnya.

Wednesday, November 04, 2015

New Year 2015 trip Part 2: The Small Town called Wageningen

Melanjutkan cerita perjalanan libur menyambut tahun baru 2015 saya kemaren, yang baru saya ceritakan bagian kedatangan doank :D, kali ini saya akan posting perjalanan di tiga negara tersebut per hari.

Jadi itinerary selama perjalanan kali ini kurang lebih seperti ini.
25 Dec 2014 : Arrival
26 Dec 2014 : Wageningen the village - Hobbits
27 Dec 2014 : The Snow, Amsterdam and Brussel
28 Dec 2014 : Gent - Canal Cruise
29 Dec 2014 : Brussel - walking around city and the museum
30 Dec 2014 : Brusel the city and continue to Paris?
31 Dec 2014 : Paris, hop on hop off bus, lunch
1 Jan 2015    : Paris when everything almost closed : where did we go then? Grand Mosque
2 Jan 2015    : Arrived back in Wageningen
3 Jan 2015    : Amsterdam - shoes-light- maximus diner
4 Jan 2015    : Another city in the Netherlands (amsterdam and rotterdam) shopping!
5 Jan 2015    : amsterdam - lilystad - the jacket
6 Jan 2015    : He's leaving

Yang saya ingat pada hari ini adalah karena sore nya kita nonton hobbit the battle of five armies  dan makan di halal kebab dekat bioskop tersebut. Cuaca malam itu cukup dingin dan karena masih libur natal, bioskop nya penuh (dengan orang tua dan anak-anak). Saya tak yakin pernah mencerikan tentang bioskop kecil disini. Mereka punya waktu break untuk ke toilet atau membeli snacks, tepat di tengah-tengah film! Saat seru-serunya pertempuran, tiba-tiba blep! layarnya gelap. Dan tanpa protes orang-orang langsung berdiri, mengambil jaket dan keluar. Antrian toilet sangat panjaaaaaaaang.... Dan 15 menit kemudian semua kembali duduk manis untuk lanjut menikmati film. Tidak semua bioskop di Belanda seperti ini (katanya). Rangkaian bioskop bernama -Pathe'- tidak memiliki waktu break seperti ini, tapi -Cinemec- dan bioskop di Wageningen ini memiliki waktu break.

Untuk "kota" (kampung) wageningen sendiri tidak ada yang menarik untuk di explore.

Friday, October 30, 2015

It's my birthday..!

Penting banged ya untuk di buatkan postingan di hari ini. My first birthday with a husband. Ga jauh beda sie... haha... Malah awalnya dia bakal di luar kota sampai nanti malam. Dari awal sampai semalam bilangnya akan balik nanti malam. Trus tiba-tiba muncul tadi malam as a surprise dan saya tidak bukain pintu dwoonk... haha... But I knew it...

Dia sempat bilang acara Jumat nya di cancel, sempat keceplosan mau makan malam kemaren dekat airport aja, hp nya mati di saat yang saya curigai dia lagi di pesawat. Jadi ya saya sudah menduga (and hoping) dia bakal pulang kemaren malam. Masalahnya, dari waktu hp nya sudah bisa dihubungi hingga waktu dia sampai di rumah itu cukup lama. Tentu saja saya jadi lebih kecewa karna sudah berharap dia beneran balik tapi (sampai saat itu) ternyata tidak.

Dan taraaa... ketika saya sudah memutuskan untuk tidur, pintu diketuk dan dia muncul. So sweet isn't it? :D Udah gitu aja.. haha.. hari ini normal bekerja tanpa rencana spesial apapun. Ulang tahun terakhir sebelum berubah status jadi orang tua nieh.. (insyaallah.. amiiin...). Semoga semuanya lancar sajaaaa....

Wednesday, October 28, 2015

New Year 2015 trip Part 1: The Arrival

Berhubung saya sedang tidak ada kerjaan dan bingung berat mau ngapain dan sangat ingin jalan-jalan, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan perjalanan menyambut tahun baru tahun 2015 kemaren. A thing to remember lah ya... Saya sempat menuliskan beberapa penggal pengalaman liburan selama 3 minggu Christmas - New year period tersebut, tapi tanpa menceritakan detil perjalanannya.

Jadi my significant one (waktu itu belom jadi suami lah yaa...) datang mengunjungi eyke ke negri kumpeni. Niat mau datang nya sie udah dari tahun 2013, kenyataannya, saya yang akhirnya balik ke Indonesia lebaran 2013 (1 bulan), internship di January 2014 (4 bulan), balik lagi buat data thesis di Jambi Agustus 2014 (2 bulan), daaaan akhirnya si dia datang di December 2014. Sementara eyke dijadwalkan beres kuliah akhir Jan 2015 dan berencana balik February 2015. Jadi ya... LDR selama 2 tahun itu bukan beneran ngga ketemu blas selama 2 tahun, paling lama ya 6 bulan-an.

Tanggal 26 December 2014 malam dia mendarat di Schipol (yeay...!) dan berhubung ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki ke Eropa, dan sebagai tuan rumah yang baik saya menjemputnya dunk.. :D


Saat saya sampai di airport, pesawat yang dia tumpangi telah mendarat, tetapi saya tetap harus menunggu beberapa saat karna proses imigrasi dan pengambilan bagasi. Saat saya menunggu, seorang om-om duduk disamping saya dan mengajak berbicara. Dia orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Belanda (melihat sekilas saya tak menduga bahwa dia orang Indonesia) dan sedang menunggu istrinya yang datang dengan pesawat yang sama. Akhirnya kita sempat bercakap sebentar dan dia memuja istrinya yang ternyata juga orang Padang yang jago sekali memasak.

My significant one muncul lebih dahulu diikuti oleh istri nya si om. Dan ternyata dia juga sempat membantu bawaan ibu-ibu yang ternyata adalah istri si om ini. Si tante tentu saja bawa banyak sekali barang dan si om sempat bercerita sebelumnya bahwa si tante pernah bawa 10kg rendang dan ditahan imigrasi gara-gara kedetect sama anjing nya :D

Kami pun memisahkan diri dari si om dan tante yang ujung nya bertemu lagi di toilet. Disinilah saya officially berkenalan dengan si tante dan bercakap bahwa saya juga orang Minang. Seperti kebiasaan orang Minang, pasti dunk si tante menanyakan dimana kampung halaman saya. Dan saya memberikan jawaban standar bahwa sekarang orangtua saya di Padang tapi nenek saya di Sijunjung. Dan si tante juga mengaku dia pernah tinggal di Muaro-Sijunjung. Disini perasaan saya mulai tak enak.. ingat (almh) emak yang pernah ngaku terkenal sekota Muaro-Sijunjung. Ya gimana ngga akan kenal semua orang di kota kecil ituh. Saya pun langsung bilang..
"Jangan-jangan tante kenal orang tua saya..."
"Siapa..?"
"xxxxxxx"
"Ya ampuuun....! Saya Bu Sarjak..!"
"Ow ya ampun ibu..."
"Anak saya si Y dan Z satu sekolah sama anaknya bu xxxx (which is kakak saya)..."

Yeah... to be honest, saya tak ingat wajah Bu Sarjak sedikitpun, saya juga berpikir sepertinya saya tak pernah sekalipun bertemu dia dimasa kecil saya. Tapi tentu saja namanya tak asing di telinga saya karna dia dan suaminya (yang dulu) adalah teman orang tua saya. Pak Sarjak adalah dokter di kota kecil itu yang tentu saja dikenal semua orang. Dan anak nya satu sekolah dengan kakak saya (anak siapapun akan pernah satu sekolah di kota kecil ini karna hanya memiliki satu SMA)

Si om yang mengobrol dengan saya tadi bukan Pak Sarjak tentunya. Saya tak tau nama asli Bu Sarjak sebenarnya siapa.
dengan Bu Sarjak

I think this story should be ended here. Ini sama sekali bukan cerita perjalanan saya dengan dia. Tapi sekurangnya ini awal yang manarik untuk diingat.

Oya, saya mau menambahkan cerita dia mengurus visa. Jadi dia apply visa Belanda dengan invitation dari saya. Jadi saya harus ke kantor Gementee untuk mendapatkan form invitation. Di form itu saya harus mengisi informasi saya dan dia. Dan berhubung saya sama sekali tidak membawa dokumen yang dibutuhkan (pastinya ditanya no passport etc), saya akhirnya harus balik lagi ke Gementee setelah mengisi semua data untuk meminta signature dan stamp dari mereka. Kemudian invitation letter ini harus dikirim ke Indonesia (by post karna harus yang asli) dan masuk dalam berkas yang dibawa untuk aplikasi visa. Karena saya yang mengundang dan "mengaku" akan menanggung semua biaya dia selama stay, jadilah saya juga harus mengirimkan bukti tabungan selama tiga bulan terakhir.

Sementara dia melengkapi semua berkas yang diminta untuk applikasi visa dan tibalah waktu interview. Walaupun kita berencana untuk jalan ke Belgia dan Paris, tapi dia sama sekali tidak memasukkan itinerary tersebut dalam aplikasi karna pastinya akan ditanya booking hotel etc, padahal saya sama sekali tidak mau booking sebelum pasti dia mendapatkan visa. Yang lucunya, dia bercerita bahwa saat interview sama si mbak-mbak intervewer menanyakan tujuan dia ke Belanda (pertanyaan standar). Dan dia cuma menjawab mau mengunjungi pacar yang sedang kuliah. Saat si mbak nanya kapan saya akan selesai dan balik, dia jawab bulan February. Dan komentar si mbak nya adalah...
" Gak sabar amat..." :D

Oya, sebelum dia berangkat saya dengan ragu minta dibawakan novel terbaru nya Dee - Gelombang, yang waktu itu baru terbit. Saya ragu karna (1) akan menambah beban membawanya balik ke Indonesia (2) saya akan pulang tak lama lagi (3) akankah ada waktu membacanya padahal saya sedang sibuk dengan thesis report. Dan dia juga dengan tegasnya menolak membelikan dengan alasan yang kurang lebih sama. Okay.. I got it.... Eh tanpa disangka dia membelikan novel itu lengkap dengan bungkusan cantik ala mbak2 toko (ga mungkin dia yang bungkuuus :D) yang langsung saya recycle untuk membungkus titipan teman di Indonesia (bungkusnyaaa.. bukan bukunya!). Alhamdulillah yaaa... How lucky I am... :)

Tuesday, October 27, 2015

I need (want?) a vacation...

Saat ini kalau liat laut, danau, sungai atau foto-foto air lainnya langsung pengen banget nyebur. Lihat kolam renang kali juga sama ya... Mungkin besok berenang aja kalo kaya gini. Terakhir liburan itu adalah bulan puasa... itu pun gak nyebur ke laut, cuma nongkrong dan main di pinggiran trus berenangnya di kolam renang. Lumayan lah yaaa....
Entah kapan bisa jalan ke tempat seperti ini lagi.... (one day we will...) 

Dulu di negri kumpeni itu gampang sekali sie kalau mau merencanakan gate-away on the weekend. Tinggal lihat lagi ada promo/ event apa atau pilih kota yang belum dikunjungi trus tinggal naik kereta. Jalan seharian dan pulang. Kalau sekarang di Jekardah ini mau kemana pake kereta? Tanah abang? Bisa ke Bogor sie... Niat aja gitu ke Bogor trus ke taman raya bogor? Apalagi sie tempat yang bias dikunjungi.. males aja kalau shopping ke outlet lagi (padahal biasanya ke Bogor kerjaannya begini).

Masalahnya sekarang di tiap weekend pasti ada agenda. Kalaupun ga ada acara pasti sangat bahagia bias stay dirumah aja karna udah cape ajah. Belom lagi saat ini targetnya adalah nabung nabung dan nabung.... I know... I do not want a fancy vacation like going to Europe.. Just a simple one like one day trip kemanaaa gitu... tapi ke tempat liburaaaan... jalan-jalannya bukan ke mall. Ah nanti paling settle nya dengan nonton di bioskop aja nie gw...

Monday, October 26, 2015

Make your choice..!!

Ini adalah hal yang sering sekali dijadikan bahan ledekan suami saya.. (deu... eyke dah bersuami boooo...)

#1. "Jadi gimana nie.. kamu mau serius atau ngga..? Kalo ngga, aku tinggal pergi ke Belanda dan gak mau berhubungan..."

#2 "Jadi gimana nie... mau nikah apa ngga...? Kalo ngga, aku ambil tawaran PhD nya dan gak balik ke Indonesia..."

Dua kalimat diatas ini biasa nya diulang sama Suami dengan berusaha mencontoh gaya bicara saya. Dan saya biasanya ikut menimpali dan mngulangi ultimatum yang sama dan pasti nya bakal di lanjut dengan pernyataan dia...

"Giliran diajak nikah beneran pusing sendiri... katanya gak segampang itu.. bakal ribet..."

Whekeke... at the end we did it, tho.

Saya ngga masalah sampai kapanpun dibecandain/ diungkit kelakuan saya dulu yang seperti ini (sepertinya bakal jadi bahan dia seumur hidup -.-')

Saya sampai sekarang tidak pernah menyesali memberikan dua ultimatum diatas :D walau mau diledekin sampe akhir jaman, I don't mind... :D Iya dunk... hidup itu banyak pilihannya... LDR itu ngga gampang.. Masa karna ketidakpastian saya harus mengorbankan kesempatan yang ada. Untuk kalimat #1 misalnya, kalau misalnya tidak dipastikan mau memiliki hubungan serius, saya akan membuang waktu dan tenaga untuk maintaining LDR yang tidak gampang. Dan yang lebih penting lagi sebenarnya, saya akan membuang kesempatan untuk mengenal calon-calon potensial lainnya dilingkungan baru.. dan bule-bule booo... whekekeke...

Dua tahun kemudian, ultimatum kedua keluar... dan kesempatan yang harus saya buang jelas dunk: I had to let go the PhD opportunity... Suami ngeledekin sekarang.. kalo misalnya dia dulu bilang belom mau nikah dalam waktu dekat, pasti saya juga ngga yakin dengan PhD nya..To be honest.. Saya memang tidak begitu siap untuk mengambil tawaran PhD itu.. Tapiiiii..... Kalau waktu itu dia beneran menjawab negative ultimatum saya, pastinya saya akan mengambil juga tawaran tersebut coz I have nothing else to go back to Indonesia then. Maksudnya.. eyke gak punya kerjaan, gak punya cowok juga dunk.. gak punya planning... At least dengan ngambil PhD saya punya "kerjaan" selama 4tahun kedepan, punya kesempatan ketemu calon-calon potensial lainnya (tetep), punya komunitas yang sangat beragam dan yang pastinya punya kesempatan lebih lanjut jalan-jalan di Eropa. So much positive sides nya khaaan? Down side nya cuma satu paling... saya bakal stress dengan tuntutan PhD nya :D

And here I am now. Back in Indonesia, got married, got a job, got a life :) dan saya masih berpikir ini karna 2 pertanyaan diatas... haha... Jadi ya... buat cewek-cewek galau diluar sana yang masih mempertanyakan "he's really into me or not..?" ngga usah pusing dengan membaca "tanda-tanda" dia serius atau tidak. Tinggal nanya langsung dan kasih ultimatum..! :D :D :D

Warning:
  • Saran ini tidak cocok untuk semua orang di masing-masing hubungannya yang unik.
  • Saran ini juga tidak menjamin si pemberi ultimatum siap dengan konsekuensinya jika jawaban ultimatum nya tidak sesuai harapan.
  • Jangan sok ngasih ultimatum kalau ngga siap dengan kedua opsi yang ada..!

Wednesday, October 14, 2015

The first kick

"I just felt her first kick.."
"Really.. That was exciting.. I hope he's fine.."

Whekeke... We didn't know the gender yet but both of us insist on what we want.. Eventhough at the end both of us also agree that we don't mind with gender as long as SHE's healthy :p

:D :D

Tuesday, October 06, 2015

Belt

Journal migren nya ternyata hanya bertahan di 1 entry. Setelah menulis di blog ini intensitas migrennya berkurang dan saya tak lagi tertarik untuk mengingat makanan apa dan kegiatan apa yang memicu migren tersebut. Untuk sementara saya menyimpulkan bahwa salah satu pemicu migren adalah perpindahan dari ruangan dingin ber-AC ke tempat yang panas dan terik matahari dalam waktu singkat, ie saat beli lunch seperti kemaren, balik-balik ke ruangan sudah ditemani si migren.

Oya, judul tulisan kali ini adalah "belt" hanya karena tadi pagi saya baru mengetahui bahwa belt yang biasa saya pakai sudah tak bisa lagi digunakan karna.... guess what... sudah kurang panjang :(
Padahal jika saya tak salah mengingat hanya ada jarah seminggu dari terakhir kali saya menggunakan belt tersebut (atau 2 minggu yang lalu?), yang pasti belum terlalu lama.

Ya sudahlah... :) Memang sudah saatnya untuk memperbaharui barang-barang ke ukuran yang lebih besar... Tapi apalah daya, kadang saya menyerah pada rasa lelah

Thursday, September 17, 2015

Migrain Journal

Migrain ini bukan hal baru bagi saya, tapi berhubung belakangan ini intensitasnya meningkat dan saya tak lagi bisa bergantung pada pain killer (since it could affect another life in me), satu satu nya cara adalah dengan menghindari pencetus migrain tersebut. Sampai saat ini saya masih tak mengerti / menyadari penyebab / trigger munculnya migrain saya. Common pattern so far adalah it worsen at night and usually started after I got back from office. Jadi mungkinkah karna cape? debu? (selama ngojek) panas? Lapar?

2 malam terakhir ini saya mengalami migrain yang cukum intens hingga susah tidur. Pagi hari sakit nya menghilang tapi tetap menyisakan satu titik disebelah kiri atas. Jadi pagi ini saya minum susu coklat, makan pisang, mangga dan jeruk.  Lets see how the migrain progress for today.

Wednesday, July 29, 2015

Unrealistic expectation...

I expected not to have a child until I get settled in this new city. I expected that we could make a plan and decide when we are ready to have a little one.  I expected that my biological clock will not prevent me to have a child if at the end we decided to have one. I expected we will have a long talk deciding when is the right time. I expected that God knows the best time and it will be the same with the time that we thought would be the best.

None comes true.

Thursday, July 23, 2015

Menulislah jika bermanfaat....

Sedang terinspirasi dengan bacaan di blogs tetangga yang sangat informative dan bermanfaat. Kemudian terdiam melihat isi blog ini. Jika ada manusia yang tidak sengaja tersasar ke blog ini dan dengan khilaf membaca isinya, alangkah sangat disayangkan. Menghabiskan waktu dan tenaga membaca tanpa mendapatkan manfaatnya. Sungguh suatu perbuatan yang sia-sia. Melebihi kesia-siaan penulisan blog ini. At least penulisan blog ini adalah saat saya mati gaya atau butuh tempat menjaga kewarasan. Sementara yang tersasar barangkasi sedang berusaha menemukan informasi yang dibutuhkan dan terjebak dalam ratusan kata tak berguna. *halah*

I want to continue writing in English just so I won't forget this language. Hmmmm.... took some time to find my words right now.  I don't even know what I wanna say in Indonesia. Right... I wanna say that I want to keep practicing - mengasah skill?- what kind of language was that? So I guess it has been quite some time that I stop thinking in English. I need to translate the words by words and as usual I can't figure out the words in the other language. I know that I never good in learning new language and even now, I feel so tired trying to push myself thinking in English.

Okay... enough for today.
Highlights of my life... New life, new job, new city, new condition, new things...

Wish me luck! 

Saturday, July 11, 2015

Effects of elevated CO2 on vitamin E concentrations in grains of two wheat cultivars – A FACE study

Sabine Tausz-Posch1, Violace A. Putri1, Saman Seneweera1, Robert Norton1,2, Glenn Fitzgerald3 and Michael Tausz4
 
1 Department of Agriculture and Food Systems, The University of Melbourne, Private Bag 260, Horsham VIC 3401, Australia, Email sposch@unimelb.edu.au
2
International Plant Nutrition Institute, 54 Florence St, Horsham VIC 3401, Australia

3
Victorian Department of Primary Industries, Private Bag 260, Horsham VIC 3401, Australia
4
Department of Forest and Ecosystem Science, The University of Melbourne, Water St, Creswick VIC 3363, Australia
 

Abstract

Vitamin E is essential for the human diet. Wheat (Triticum aestivum L.), as a basic food staple for the human diet, supplies not only significant amounts of dietary carbohydrates and proteins, but is also abundant in structurally related vitamin E compounds called tocols. While it has been shown that rising atmospheric CO2 [CO2] decreases protein as well as macro- and micro nutrients in wheat grains, possible effects of elevated [CO2] (e[CO2]) on tocols have received little attention. This study compares the tocols (α−, γ−, δ−tocopherols and α−, β−, γ−tocotrienol) of two wheat cultivars (Janz and Zebu) under two CO2 levels (ambient a[CO2] ~390 ppm, e[CO2] ~550 ppm) in order to study intra-specific variability of responses to e[CO2]. Plants were grown within the Australian Grains Free Air Carbon Dioxide Enrichment (AGFACE) facility, Horsham (Victoria). Tocols of grains were analysed three weeks before and at maturity. Tocol concentrations were not affected by CO2 treatment. Cultivar specific differences were only found for tocotrienols but not for tocopherols with Zebu having significantly greater α−, β−, γ−tocotrienol concentrations than Janz. Also, tocol concentrations decreased from early to late sampling date, except for α-tocotrienol, which increased, and γ-tocopherol, which did not change between sampling dates. Based on these findings our data suggest that rising CO2 concentrations do not impact tocol concentrations in wheat grains, which has positive implications for the food quality of a future climate.
 

Key Words

Triticum aestivum, vitamin E, elevated CO2, climate change, Free Air Carbon Dioxide Enrichment (FACE)

http://www.regional.org.au/au/asa/2012/climate-change/8092_tausz.htm 

Thursday, May 28, 2015

Dreams updated

I have listed my dreams before and revisit it.
Here is the list
1. Finish the thesis : DONE 
2. Italy trip with him : Not Happening
3. Graduated : DONE
4. A trip with my sister : DELAYED
5. Get married : DONE
6. Get a diving license : Still in the list
7. Diving! : after I got #6

In the mean time I just got a job (still waiting for the offer tho), and started writing my story.. but the story is going so slow.

Thursday, April 16, 2015

Wedding Preparation

Yup.. I successfully finished my second master and went back to my home country. I got an offer to continue a PhD program from my supervisor but I have to reject the offer because of my personal life. It kind of bothering me.. any Indonesian will support my decision especially my family. It doesn't matter if you finished 2 master programmes and got a Phd offer, if you are still single, you lack of achievement. I don't mind rejecting the offer, I personally doubting my ability to do the Phd in that topic for the next 4 years. But.. how can I say it... It's just typical me... I don't like in the same opinion with society.. LoL.

Even though it is my own decision to reject the offer, I don't really like the fact that the society (I mean people surrounding me) agree with that... Because they see having family is more important. I didn't say that getting married is not an important step for me, I just think that's not the only reason I rejected the offer. Eventhough in fact that the easiest answer and I did give that as a reason to my supervisor. Anyway... I am just saying.. I don't know what I am saying actually.

And you know what... Preparing a wedding is a hell of a job. It is easy at the beginning and getting worse to the end. The family, the limitations, the requests, the time.. everything went wrong. At some point I was too lazy to dealt with all those problem and prefer to be single. Isn't that funny..? Why getting married is such an important thing in this society...? Along with all "adat" and family thingy.

Anyway... I have 2 master degrees and no job.. and no one cares... as long as I am getting married. What a crazy world..!

Thursday, January 22, 2015

Useless...

I started this morning with a lazy feeling. Really do not want to do anything, particularly revising my thesis report. I forced my self to go to my workstation where everyone else in the room was busy in front of their own computer. I sat and started feeling stress. Knowing that I was not in the mood to revise my report, but still forcing myself to do it. It was useless... I just felt warm in my face and my head started aching.



Wednesday, January 21, 2015

New Dream, new target

I have to write it down.
I remember long time ago I always said that I want to go a broad. And because I know I couldn't afford it by myself (with my low paid job) I set the goal to get a scholarship, of course in another country. So that was my first time to went abroad. With scholarship. To Australia.


Back from Australia, I set another dream to go to Europe. Since I still stuck in the same low paid job (that will be forever low paid unless I committed corruption, or I become the head office 20 years later or never after), I try another scholarship to Europe. I got it..! And with a bonus of getting rid my old job. For some people who do not understand the situation in Indonesia and the "prestigious" job working for the government, it seems ridiculous that I had difficulties of getting rid of my old low paid job. But many in the same situation with me would understand and some will ridicule me for my decision. I know better what's good for me. So for people in the later group, please keep your opinion for yourself.




Now I almost finish with my study in Europe and I have to set another target. I had this dream that I will get married and be a stay at home mum. None of my friends see it as a promising future and (sadly) nor my significant one, not to mention my family. Hence I have to set my new target, I definitely like to travel but as I realized and wrote in my previous post that it was not the thing I want to achieve. So I just came up with a new target... working in the UN bodies in ROME! Why Rome? I don't know.. I just want to. Just like my previous targets going abroad and Europe.. why should I..? No realistic reason.. just human neediness for something that I think looks cool.
Simple.


Or.. probably with that job I could afford to travel around the world as a break from life routine, not as the goal of life itself.


So wish me luck..!!

Friday, January 09, 2015

The weaknesses...

It seems that during my study in Wageningen I learned a lot not only on the scientific senses but also on my personality. I found out many of my weaknesses that portentially make me worse off in performing a task. First, about my self-confident, then it trails along to my passion, my ability to write, the inpatient of explaining something, the lack of curiosity and many more that I did not even bother to acknowledge before.

It surfaces because I have to revised my draft report and the general comment was that other people that are not in the field won't be able to understand what I was talking about. I should have made a report that can be understood by readers that are not familiar with the topic. Secondly, I tend to jump into next topic out of nowhere and didn't have a logical flow. Something that I could work on if I have patient to explain things to a child - and something that I realised that I don't have a patient to-.

Sepertinya saya harus mengubah cara pandang saya. Selama ini saya selalu menganggap saya tidak punya passion di bidang ini tapi ketika ditanya dimana passion saya sebenarnya, saya pun tidak bisa menjawab nya. Travelling..? Benerkan disana passion saya..? Terus kenapa saya pun tak tertarik dengan ide stahun keliling dunia atau bekerja sebagai travel writer? Kenapa ketika sepuluh hari travelling saya selalu bahagia ketika waktunya pulang? Saya pikir travelling itu hanya menarik untuk a short break. Perjalanan yang akan membuat saya bersyukur dengan apa yang ada di "rumah". Perjalanan yang dibutuhkan untuk menyemangati kembali kehidupan "normal" saya danlebih menghargai kehidupan dan orang-orang disekitar kita. Perjalanan yang membuat kita lebih menghargai hidup.

Mungkin passion saya dibidang ini jika saya tak selalu berusaha menolak nya. Mungkin saya bisa mengubah cara pikir saya dan melihat dengan "curiosity" tinggi terhadap topik ini seperti keingintahuan saya mengenai tempat-tempat lain diluar sana. Mungkin sudah waktunya sekarang saya tidak hanya memandangnya sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, tapi sebagai hal yang saya pelajari karena saya tertarik dan ingin mengetahui lebih mengenai nya.

Mungkin ini saat nya untuk berubah....

Wednesday, January 07, 2015

New Year...!

Happily had my 3 weeks holiday and return to my "working desk"doing all unimportant stuff. I still have not had feedback for my draft report but my daily supervisor said she has checked it and send it to my main supervisor for further comments. When I asked how was my report she just answer it with a short "good"'. So good it is.. I am less guilty of not doing anything on the report during the last 3 weeks.

I have to scrap one of my dream in previous post about having a trip to italy with him. We didn't manage it. We went to Brussel, Ghent and Paris instead. I realised he's not a travel freak like I do. If I was him, I would be very dissappointed that I didn't manage to visit some famous places that probably were in my list. But he content with things that we did. I figured, travelling with him was stress free (a bit), and no rush. If I was in my own pace then I will always in hurry to keep up with my list of must visited places. Doing his way was more relexing (that is the main idea of holiday). I think it was a good thing that we didnot manage to go to Italy. I have been to those places that we were visited, and I manage to visit places that interest me. If we went to italy probably I will in my stress mode, continously counting times in order to keep up with my list.

I don't have new year resolutions, never had one I think.... The dreams are still the same, I didn't set time to achieve it... I think a need another short time dreams to achieve. And trying to find what my passion is.. Scrap travelling, I can't afford to always get scolding for having "unproductive" passion.